RSS

Artikel Insan Rabbani

11 Jun

MENJADI INSAN YANG ROBBANI BUKAN SEBAGAI INSAN ROMADHONI

Pompi Yudha Abriyanti

D3 Kebidanan

 ABSTRAKSI

            Predikat taqwa yang menjadi tujuan diperintahkannya ibadah shaum Ramadhan dan ibadah-ibadah lain -baik ibadah yang berhubungan vertikal langsung dengan Alloh SWT maupun ibadah horisontal. Kalau kita hubungkan dengan konteks Ramadhan, maka bagaimana kita akhirnya terus bersemangat mengisi Ramadhan sampai selesai selama sebulan penuh, bukan hanya semangat di awalnya saja. Padahal hari-hari terakhir Ramadhan menjadi penentu kesuksesan kita dalam bulan ini dan tahun-tahun berikutnya dalam kehidupan kita di dunia. Tujuannya agar kita menjadi insan Rabbani, bukan insan Ramadhani, yang taqwa kepada Alloh SWT di bulan Ramadhan, juga di luar bulan Ramadhan.

Kata Kunci : Insan Rabbani, Insan Ramadhani dan Alloh SWT.

1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

            Hadirnya Ramadhan sebagai madrasah, mendidik jiwa agar lebih bertaqwa, menekan gejolak nafsu agar tidak merajalela, melatih diri melazimi tilawah Al-Qur’an dan memotivasikan semangat mencari ridho Alloh SWT.

1.2  Rumusan Masalah

            Puasa sering kali dimaknai sebatas ibadah pen-“suci”-an dari dalam tanda kutip. Momentum ramadhan dijadikan ajang pertobatan semu atas dosa-dosa yang telah lalu

1.3  Batasan Masalah

            Kajian dibatasi pada momentum dan semangat di bulan Ramadhan untuk di teruskan pada upaya pencapaian ketakwaan dan menjadi insan yang Rabbani.

1.4  Tujuan Kajian

            Tujuan kajian untuk (A) kontinyu dalam bertakwa (B) sukses sampai akhir bulan Ramadhan (C) menguatkan kesabaran (D) menjadi insan yang Rabbani.

2. TINJAUAN PUSTAKA

 MENJADI INSAN YANG RABBANI

BUKAN SEBAGAI INSAN RAMADHANI

             Predikat taqwa yang menjadi tujuan diperintahkannya ibadah shaum Ramadhan dan ibadah-ibadah lain, baik ibadah yang berhubungan Vertikal langsung dengan Alloh SWT maupun ibadah horisontal ternyata tidak menjadi prestasi puncak lalu berhenti, setelah itu selesai, bahkan mati. Meraih predikat taqwa membutuhkan proses perjuangan panjang dalam hidup. Sehingga taqwa berarti sesuatu yang hidup, aktif, berkembang dan berkesinambungan.

Mari kita renungkan panggilan Alloh SWT kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai. Alloh SWT berfirman:

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”, orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Alloh SWT itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Alloh SWT dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.

Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”.

Katakanlah: “Hanya Alloh SWT saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. QS. Az Zumar : 10-14.

A. Kontinyu dalam Bertaqwa

Perhatikan, Alloh SWT memanggil orang beriman dengan panggilan kecintaan, kedekatan dan kehangatan; Wahai hamba-hamba-Ku, ini menunjukkan panggilan itu disukai Alloh SWT. Persis seperti sabda Nabi Muhammad SAW, ”Nama dan panggilan yang paling Alloh SWT sukai adalah Abdullah (nisbat penghambaan kepada Allah) dan Muhammad (yang terpuji).” Setelah itu Alloh SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya yang benar tauhidnya agar bertaqwa. Ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan derajat taqwa di sisi Alloh SWT memerlukan perjuangan terus-menerus dan proses madal hayah (Tafsir Ibnu Katsir).           Dengarlah ungkapan sahabat Abu Bakar, ”Demi Alloh, seandainya salah satu kaki saya berada di surga, sedangkan kaki yang lain masih di luarnya, maka aku tidak merasa aman dari makar Alloh SWT.”

Semua kosakata dan terminologi yang berarti keta atau, kebaikan, manfaat, amal shaleh, produktifitas adalah bagian dari taqwa. Sisi lain yang berarti keburukan, kesia-siaan, kemungkaran, pemborosan dan maksiat adalah yang merusak taqwa.

Lanjutan ayat ini berbunyi, ”Bagi orang-orang yang ihsan atau berbuat baik dalam kehidupan dunia akan mendapatkan kebaikan.”Akar kata ihsan berikut turunannya (ahsanu, muhsinin dan ihsan) di dalam Al-Qur’an sedikitnya terdapat di lima puluh tempat, yang kesemuanya bermakna kebaikan, amal positif, menuju proses sempurna, dan membawa manfaat. Sebagaimana ihsan dalam terminologi Rasulullah saw adalah ”Anda beribadah kepada Alloh, seakan-akan anda melihat-Nya. Jika anda tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah Ia melihat anda.”  Ihsan disini bermakna kesungguhan dalam kebaikan dan ta’at.

Dalam kesempatan lain Rosulullah SAW mendefinisikan insan yg berbuat baik secara optimal. ”Sesungguhnya Alloh SWT memerintahkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kamu menyembelih, maka sembelihnya dengan sebaik-baiknya.”.

Ihsan juga berarti profesional, tepat waktu, dan proses menuju sempurna. Rosulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya Alloh mencintai seseorang yang apabila melaksanakan sesuatu atau pekerjaan, ia laksanakan dengan sempurna.”

B. Sukses Sampai Akhir Ramadhan

Kalau kita hubungkan dengan konteks Ramadhan, maka bagaimana kita akhirnya terus bersemangat mengisi Ramadhan sampai selesai selama sebulan penuh, bukan hanya semangat di awalnya saja. Padahal hari-hari terakhir Ramadhan menjadi penentu kesuksesan kita dalam bulan ini.

Namun demikian apa yang sering kita saksikan justru menunjukkan sebaliknya. Puasa sering kali dimaknai sebatas ibadah pen-“suci”-an dari dalam tanda kutip. Momentum Ramadhan dijadikan ajang pertobatan semu atas dosa-dosa yang telah lalu. Sebagai contoh pekerja seni, yang biasa tidak mengindahkan kaidah-kaidah agama dalam karya seni mereka (iklan, film, sinetron) dan lebih banyak unsur eksploitasi aurat dan kekerasan rumah tangga, seperti tahu diri saatnya jeda sejenak selama bulan Ramadhan. Kesalahan yang menjamur di bulan Ramadhan

Di antara kesalahan yang umum dilakukan orang berkaitan dengan bulan Ramadhan adalah:

1. Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya. Padahal, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ

“Maka, bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”(QS. an-Nahl: 43).

Dan, Rosulullah bersabda:

مَنْ يُرِد اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُ فِي الدِّيْنِ

“Barang siapa dikehendaki baik oleh Alloh SWT, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

2. Menyambut bulan suci Ramadhan dengan hura-hura dan bermain-main. Padahal, yang seharusnya adalah menyambut bulan yang mulia tersebut dengan dzikir dan bersyukur kepada Alloh SWT karena diberi umur bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Lalu, hendaknya ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, kembali kepada Alloh serta melakukan muhasabah nafsi (perhitungan dosa-dosa pribadi), baik yang kecil maupun yang besar, sebelum datang hari Perhitungan dan Pembalasan atas setiap amal yang baik maupun yang buruk

3. Mengenal Alloh hanya pada bulan Ramadhan saja. Sebagian orang, bila datang bulan Ramadhan mereka bertaubat, shalat dan puasa. Tetapi, jika bukan Ramadhan telah berlalu, mereka kembali lagi meninggalkan shalat dan melakukan berbagai perbuatan maksiat lagi. Alangkah celaka golongan orang seperti ini, sebab mereka tidak mengetahui Alloh, kecuali di bulan Ramadhan.

4. Kesempatan bermalas-malasan. Anggapan sebagian orang bahwa bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk tidur dan bermalas-malas di siang hari, begadang di malam hari. Lebih disayangkan lagi, mayoritas mereka begadang dalam hal-hal yang dimurkai Alloh, berhura-hura, bermain yang sia-sia, menggunjing, adu domba, dan sebagainya.

5. Sedih jika Ramadhan tiba. Sebagian orang ada yang merasa sedih dengan datangnya bulan Ramadhan dan bersuka cita jika keluar dari padanya. Sebab, mereka beranggapan bahwa bulan Ramadhan menghalangi mereka melakukan kebiasaan maksiat dan menuruti syahwat. Mereka berpuasa sekadar ikut-ikutan dan toleransi.

6. Mengisi malam-malam Ramadhan dengan hal yang diridhoi Alloh SWT. Banyak orang yang begadang pada malam-malam bulan Ramadhan dengan melakukan sesuatu yang tidak terpuji, bermain-main, ngobrol, jalan-jalan, duduk-duduk di jembatan atau trotoar jalan. Pada tengah malam, mereka baru pulang dan langsung makan sahur dan tidur. Karena kelelahan, mereka tidak bisa bangun untuk shalat Subuh berjamaah pada waktunya.

.7. Hanya sekadar menahan lapar dan haus. Menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriah seperti makan, minum dan menggauli istri, tetapi tidak menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara maknawiah seperti menggunjing, adu domba, dusta, melaknat, mencaci, memandang wanita-wanita di jalan, di toko, di pasar di televisi, gambar dan sebagainya. Seyogyanya, setiap muslim memperhatikan puasanya, menjauhkan diri dari hal yang tercela.

8. Meninggalkan shalat Tarawih. Padahal, telah dijanjikan bagi orang yang menjalankan karena iman dan mengharap pahala dari Alloh ampunan akan dosa-dosanya yang telah lalu. Orang yang meninggalkan shalat Tarawih berarti meremehkan adanya pahala yang agung dan balasan yang besar ini. Ironisnya, banyak umat Islam yang meninggalkan shalat Tarawih. Barangkali ada yang ikut shalat sebentar lalu tidak melanjutkannya hingga selesai. Atau rajin melakukannya pada awal-awal bulan Ramadhan dan malas ketika sudah akhir bulan.

9. Melalaikan shalat wajib. Sebagian orang ada yang berpuasa, tetapi meninggalkan shalat atau hanya shalat ketika bulan Ramadhan saja

10. Melakukan perjalanan agar bisa berbuka puasa dengan alasan musafir.

11. Berbuka dengan sesuatu yang haram. Seperti rokok, minuman yang memabukkan, dan sejenisnya. Atau berbuka dengan sesuatu yang didapatkan dari yang haram.

Rosulullah SAW adalah menjadi bukti konkrit untuk kita teladani. Adalah beliau dalam hidupnya tidak pernah meninggalkan i’tikaf di masjid. Selama delapan atau sembilan kali beliau terus melaksanakan i’tikaf tersebut. Bahkan di tahun di mana beliau meninggal dunia, beliau i’tikaf dua puluh hari akhir Ramadhan.

Rosulullah SAW adalah seorang Nabi, kepala negara, suami, ayah dan otomatis tanggung jawab beliau sangat besar mengurus ummatnya, namun beliau tidak pernah meninggalkan ibadah ini, dengan alasan apapun termasuk pulang kampung.  Rosulullah SAW tidak pernah pulang kampung di hari-hari nan mahal di mata Alloh SWT ini.

Rosulullah SAW menyibukkan diri dengan taqarrub ilalloh, munajat, tilawah Al-Qur’an, do’a, istighfar, muhasabah dan lainnya. Gambaran menghidupkan malam-malam itu beliau istilahkan sendiri dengan ungkapan ”Syaddul mi’zar. Mengencangkan ikat pinggang”. Beliau juga membangunkan keluarganya untuk begadang di malam-malam akhir Ramadhan. Rahasianya adalah untuk meraih Lailatul Qadar. Sunnah ini dilanjutkan oleh para istri-istri Rosulullah SAW dan para sahabatnya Radliyallahu ajma’in.

Rasulullah SAW, istri-istrinya dan para sahabat Radliyallahu ajma’in mengajarkan kepada kita untuk pandai mengambil prioritas amal, mana yang harus di dahulukan dan mana yang harus di akhirkan.

Lanjutan ayat ini menekankan kembali untuk bisa mengambil prioritas amal itu, ”Dan bumi Alloh itu luas . Para ahli tafsir sepakat yang dimaksud ayat ini adalah perintah untuk berhijrah dan berjihad. Salah satu bentuk hijrah dan jihad dalam konteks kita, yang tidak ada peperangan adalah meningkatkan ketaatan dan mujahadah dalam kebaikan. Memburu Lailatul Qadar adalah bagian dari hijrah dan jihad ini, sebagaimana dicontohkan para Salafus Shaleh. Dunia tidak secekak daun kelor, ternyata peribahasa ini dinukil dari firman Alloh SWT ini.  Di manapun kita menginjakkan kaki, di tempat kelahiran atau di rantau, adalah sama saja di mata Alloh SWT. Artinya adalah jangan sampai kita melewatkan hari-hari dan malam-malan mahal itu dengan alasan pulang kampung, antri panjang di loket, macet di jalan dan seterusnya, hanya karena mengejar, ”saya harus kumpul keluarga di Hari Raya”.

Bukan itu yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Beliau orang yang tidak pernah memutus hubungan tali silaturahim, dengan siapa pun apalagi dengan keluarga dan kerabat. Namun beliau sangat tahu persis bahwa malam Lailatul Qadar itu harus di raih dengan cara mengoptimalkan sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Untuk melaksanakan i’tikaf di masjid memang membutuhkan perjuangan yang besar, membutuhkan keseriusan yang tinggi dan kesungguhan dalam melaksanakannya. Banyak godaan dan tantangn untuk melakukan i’tikaf ini. Apakah karena alasan persiapan Lebaran, atau bahkan animo dan persepsi masyarakat yang tidak benar, bahwa ”Lebaran harus kumpul dengan keluarga”.

Permasalahannya adalah karena kita belum mempersiapkan ibadah ini jauh-jauh hari, serta belum memahamkan anggota keluarga kita bahwa ibadah sepuluh hari terkahir ini meskipun hukumnya sunnah muakkadah, namun tidak pernah ditinggalkan oleh Rosulullah SAW. Kalau toh pulang kampung bisa setelah shalat idul fitri. Sehingga kedua hasanah atau keutamaan bisa diraih sekaligus. Hasanah Lailatul Qadar dan silaturahim lebaran.

C. Kuatkan Kesabaran

Bagi orang yang mampu melawan godaan dan tantangan itu akan mendapatkan balasan tak terhingga. Alloh SWT menepati janjinya, ”Balasan orang yang sabar dalam ketaatan adalah pahala tanpa batas.” Sesuatu yang masih bisa dibilang dengan secanggih alat apapun, masih terhitung sedikit. Namun bagi orang yang sabar dalam ketaatan mendapatkan balasan bighairi hisab –tak terhitung.

Balasan bagi orang yang sungguh-sungguh menghidupkan malam-malam sepuluh akhir Ramadhan akan mendapatkan kebaikan tak ternilai harganya. Lailatul Qadar bagian dari kebaikan tak ternilai harganya itu.

Pengorbanan dan keseriusan itu justru menjadi bukti kesungguhan peribadatan kita kepada Allah swt. Ayat selanjutnya Alloh SWT menyeru:

”Katakanlah, saya diperintahkan untuk beribadah kepada Alloh SWT dengan ketundukan total dalam agama.”

Bahkan kita disuruh Alloh SWT agar menjadi orang muslim pertama dalam ketaatan. Bangga menjadi muslim yang taat. Alloh SWT berfirman: ” Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

D. Menjadi Insan Rabbani

Alloh SWT menginginkan dari kita, agar menjadi insan Rabbani, bukan insan ramadhani. Yang taqwa kepada Allah swt di bulan Ramadhan, juga di luar bulan Ramadhan. Karena itu kita dipesan untuk takut berbuat dosa dan maksiat lagi pasca Ramadhan. Alloh SWT berfirman:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.

Katakanlah: “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.

Insan Rabbani itu adalah orang yang berma’rifah kepada Alloh SWT serta selalu taat beribadah, berpegang pada agama, bersaksi atas kebenaran al-kitab, menjaga keutuhannya, selalu menggali ilmu pengetahuan dengan mengkajinya lalu mengajarkan serta mendidik orang lain, melakukan amar ma’ruf nahyi munkar, menggunakan daya nalar dan daya fikir, berilmu pengetahuan, beradab, ramah terhadap lingkungan, dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan, dengan menyedari akan dirinya sebagai makhluk Alloh SWT yang tidak selalu benar, mempunyai sifat pelupa dan hanya seorang hamba yang lemah.

Ramadhan meninggalkan kita tanpa ada jaminan adakah kita akan bertemu Ramadhan pada tahun hadapan. Para solafussoleh terdahulu menangisi kepergian Ramadhan dan selalu memperbanyakkan doa supaya dipertemukan semula dengan Ramadhan yang seterusnya.

Hadirnya Ramadhan sebagai madrasah, mendidik jiwa agar lebih bertaqwa, menekan gelojak nafsu agar tidak bermaharajalela, melatih diri melazimi tilawah al-quran dan memotivasikan semangat mencari ridha Alloh SWT.

Meraih predikat taqwa membutuhkan proses perjuangan panjang dalam hidup. Sehingga taqwa berarti sesuatu yang hidup, aktif, berkembang dan berkesinambungan.

3. KESIMPULAN dan SARAN

3.1 Kesimpulan  

Dimana sebagai insan yang selalu bertaqwa kepada Alloh SWT kita harus mengikuti apa yang seharusnya diperbuat dan tidak, seperti halnya dibulan yang fitrah ini. Predikat taqwa yang menjadi tujuan diperintahkannya ibadah shaum Ramadhan dan ibadah-ibadah lain. Mari kita renungkan panggilan Alloh SWT kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai. Alloh SWT berfirman:“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Alloh SWT itu adalah luas. Akan tetapi, kenyataannya banyak hamba-hamba Alloh SWT yang selalu ingat  kepada ibadah saat bulan Ramadhan saja. Maka dari itu kita selalu di tuntut untuk menjadi insan yang Rabbani dan jangan menjadi insan yang Ramadhani.

3.2 Saran

Diharapkan kita sebagai hamba Alloh SWT, menjadikan momentum bulan Ramadhan sebagai tolak ukur dan awal untuk menjadi seorang manusia seutuhnya, yang selalu bertaqwa sehingga mencapai kesuksesan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat sesuai jalan yang di ridhoi-Nya.

DAFTAR RUJUKAN

http://saga-islamicnet.blogspot.com/2010/03/insan-rabbani.html

http://www.kangandi.com/2010/07/ku-gapai-sukses-ramadhan.html.

http://www.ismamesir.com/v1/index.php?option=com_content&view=article&id=51:apa-selepas-ramadhan&catid=52:tazkirah&Itemid=141

http://abujakfaride.blogspot.com/2010/08/ramadhan-momentum-tobat-sesaat.html


 
Leave a comment

Posted by on June 11, 2011 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: