RSS

Obstetri Penyakit Tractus Digestivus

12 Jun

II.I       PENYAKIT TRAKTUS DIGESTIVUS, HEPAR DAN PANKREAS

I.A       TRAKTUS DIGESTIVUS ( ALAT PENCERNAAN )

Pengertian TRAKTUS DIGESTIVUS merupakan salah satu penyakit yang menyerang alat pencernaan yang biasa dialami pada wanita hamil.

Pada wanita hamil biasanya merasakan perubahan-perubahan, misalnya : perubahan dalam merasakan makanan dan mencium bauh-bauhan kurang nafsu makan, sedikit mual, bahkan mau muntah. Akan tetapi perubahan tersebut dapat mengganggu kesehatan wanita hamil apabila terjadi perubahan yang sangat berlebihan.

Wanita hamil kadang-kadang menginginkan makanan yang aneh-aneh, misalnya : es batu, garam, makanan mentah, bahkan kapur atau lumpur. Hal ini disebabkan oleh kelaparan ataupun gangguan psikologi dengan kebiasaan sosial dan latar belakang budaya.

Alat pencernaan yang berhubungan dengan penyakit TRAKTUS DIGESTIVUS, antara lain :

  1. MULUT
  2. ESOFAGUS
  3. LAMBUNG
  4. USUS HALUS
  5. USUS BESAR
  6. DAERAH ANUS

A.I       MULUT

  1. Ptialismus (salorea, hipersalivasi)

Kehamilan dalam trimester I sering disertai sekresi air liur yang berlebihan dari keadan biasanya, yang disebut PTIALISMUS. Air liur yang dikeluarkan dapat mencapai 1000ml dan disertai mual dan muntah.

Untuk keadaan ini tidak ada obat yang khas untuk mencegahnya. Obat anti-kolinergik (alkaloid belladonna, atropin) dan obat anti sekresi lain dapat diberikan, akan tetapi tidak banyak menolong dalam kasus-kasus yang berat. Untuk hal ini dianjurkan pendekatan secara psikologi.

2.   Gingivitis dan epulis

Gusi wanita hamil menjadi lunak dan hiperemesis, sehingga mudah berdarah, misalnya pada waktu gosok gigi. Peradangan seperti stomatitis, gingivitis biasa, gingivitis proloferatif, dan gingivitis hipertrofik yang berlangsung selama masa hamil. Bahkan sampai berbulan-bulan setelah kehamilan. Keadaan ini dapat dicegah melalui pemeliharaan atau kebersihan mulut agar tidak terjadi peradangan.

Epulis gravidarum disebut suatu kelainan yang khas, terdiri atas pembengkakan giniva lokal yang mengandung banyak pembuluh darah dan sangat mudah berdarah. Epulis dapat hilang dengan sendirinya setelah kelahiran.

3.   Karies Dentis

Karies dentis sudah ada pada waktu wanita hamil. Dalam keadaan ini gigi menjadi semakin rusak, apalagi wanita hamil tersebut kekurangan kalsium untuk makanan sehari-hari. Maka dapat terjadi kerusakan pada gigi.

A.2      ESOFAGUS

1.   Pirosis (nyeri dada)

Pirosis disebabkan oleh kembalinya isis lambung yang asam kedalam esefagus bagian bawah yang sering dijumpai saat kehamilan. Nyeri dada dibawah sternum merupakan komplikasi ringan dalam kehamilan. Menjelang kehamilan yang cukup bulan biasanya keluhan berkurang karena uterus turun, sehingga tekanan intra abdominal turun pula dan kemungkinan regurgitasi berkurang. Setelah kelahiranpun berkurang.keluhan berkurang dengan pemberian makanan dalam porsi kecil dan wanita disuruh tidur setengah duduk, terutama sehabis makan dan tidak perlu diberikan makan dan minuman manis. Jika perlu dapat diberikan obat anti asam biasanya hidroxida alumunium, hidroxida magnesium atau trixsilikat magnesium. Susu sapi mengurangi asiditas lambung dan dapat diberikan menjelang waktu tidur.

2.   ESOFAGITIS EROSIFA

Esofagitis Erosifa merupakan akibat yang gawat dari kembalinya isi lambung kedalam esofagus, dan tidak mempunyai hubungan dengan hiperemesis gravidarum. Gejala yang sering dijumpai ialah nyeri waktu menelen(disfagia) disertai pirosis. Hematemisis dapat terjadi, dan esofagoskopia menunjukkan erosio berdarah pada selaput lendir satu pertiga bawah esofagus. Penanggulangannya apabila terjada hematemesis penderita dasuruh minun air es atau es batu kecil-kecil. Biasanya kelainan ini sembuh setelah kelahiran.

3.   VARISES ESOFAGEI

Varises Esofagei akibat sirisis hepatis menjadi lebih besar dan lebih mudah pecah dalam kehamilan, karena hipervolemia kehamilan dan hipertensi fortal.

A.3 LAMBUNG

1.    HERNIA HIATUS

Meningkatnya tekanan intra abdominal dengan bertambah besarnya uterus dapat menyebabkan bagian atas lambung memasuki lubang diafragma dilalui esofagus. Multipara dalam usia lanjut sering menderita dari pada nullipara. Kelainan ini sembuh dengan sendirinya setelah anak lahir. Penderita ini kadang tidak mempunyai keluhan kadang ada keluhan gangguan pencernaan, pirosis, muntah, hematemesis dan turunnya berat badan.

2.   ULKUS PEPTIKUM

Frekuensi Ulkus Petikum dalam kehamilan sukar diketahui dengan pasti karena pemeriksaan dengan sinar roentgen jarang dilakukan, namun ulkus yang aktif jarang dijumpai pada wanita hamil. Para wanita yang diketahui menderita ulkus peptikum biasanya penyakitnya sembuh atau berkurang dalam masa hamil, terutama dalm triwulan satu dan dua. Dalam triwulan ketiga, dalam nifa dini dan beberapa bulan sampai dua tahun setelah kelahiran penyakit kambuh lagi. Dalam enam bulan pertama kehamilan getah lambung berkurang, dan meningkat lagi dalam triwulan terakhir, nifas dan beberapa bulan setelah anak lahir. Penanganan ulkus peptikum dalam kehamilan umumnya konservatif. Tindakan operatif hanya dilakukan apabila memang diperlukan. Perdarahan yang ringan dapat diobati secara konsevatif disertai transfusi darah atau pemberian besi parenteral, misalnya imferon dengan infus dalam dosis tinggi.

3.   GASTRITIS

Gastro-kolitis sering dibuat pada wanita hamil mudah, dengan keluhan : nyeri epigastrium, mual, muntah, tidak ada nafsu makan. Untuk pemeriksaan yang lebih objektif dan lebih teliti sebagian dari wanita hamil menderita hiperemesis gravidarum, pirosis, esofagitis, atau hernia hiatus.

A.4 USUS HALUS

1.   Ileus

Ileus obstruktivus dapat dijumpai dalam kehamilan seperti kontraksi uterus, kejang otot perut, disertai mual, muntah dan konstipasi. Gejala obstruksi usus halus atau usus besar terjadi karena kompresi atau torsi oleh uterus yang membesar. Selain itu obstruksi terjadi karena volvulus, intususepsi, dan hernia inkarserata. Muntah-muntah, obstipasi, dan bising usus merupakan gejala-gejala yang khas bagi ileus obstruktifus.

Ileus merupakan komplikasi yang gawat dan sangat berbahaya, yang sering menyebabkan kematian wanita hamil, apabila tidak segera di operasi. Dalam kehamilan biasa tonus dan peristaltik usus berkurang, yang sering menyababkan wanita sulit buang air besar. Kadang-kadang timbul gejala ileus paralitikus dalam kehamilan dan nifas.

Ileus paralitikus tanpa komplikasi lain diatasi dengan pemberian makanan parenteral dan pemasangan pipa hidung sampai lambung untuk menghisap isi lambung yang terus-menerus. Dengan cara ini biasanya penderita sembuh dalam waktu 3-5 hari.

2.   Volvulus

Dengan makin tuanya kehamilan dan makin membesarnya uterus, usus halus dapat terputar pada pangkalnya, sehingga terjadi penjiratan seluruh ileum. Akibatnya sangat gawat dan menyebabkan kematian apabila tidak segera di operasi. Keadaan lain yang dapat menyebabkan volvulus ialah perpanjangan mesokolon, hernia diafragmatika, perlekatan usus, dan terdapatnya pita kongenital di dalam rongga perut.

Gambaran klinik berupa perut yang menunjukkan tanda-tanda gawat dengan mendadak terdiri atas gejala-gejala obstruksi usus disertai muntah-muntah yang hebat. Keadaan umum cepat memburuk akiat gangguan elektrolit dan keracunan: Nadi sangat cepat dan suhu meningkat. Penderita harus segera di operasi.

3.   Hernia

Berbagai macam hernia dapat di jumpai dalam kehamilan, seperti hernia inguinalis, femoralis, umbilikalis, dan sikatrisea yang biasanya tidak menimbulkan keluhan. Membesarnya uterus mendorong usus-usus lebih jauh dari cincin hernia, sehingga inkarserasi jarang terjadi dalam kehamilan, juga dalam persalinan kala 2, walaupun wanita kesakitan. Sebaliknya, dalam nifas cincin dapat menjadi lebih besar dan usus dapat masuk kedalam kantung hernia. Gejala-gejala ileus pada hernia dapat timbul pada setiap saat dalam kehamilan atau nifas apabila ada perlekatan usus yang terjepit, terputar, atau tertarik dalam persalinan sebaiknya wanita tidak meneran terlampau kuat apabila kantung hernia menjadi lebih besar, dan persalinan di akhiri dengan ekstraktor vacum atau cunam.

Hernia umbilikalis dan hernia sikatrisea tetap membesar dalam kehamilan. Apabila ada perlekatan usus dengan omentum, tarikan pada omentum sering menyebabkan rasa nyeri.

4.   Ileitis regionalis

Ileitis regionalis merupakan suatu proses granulomatus ileum bagian akhir yang tidak khas yang meliputi peradangan, nekrosis, ulserasi, dan perparutan. Penyakit ini  biasanya dijumpai pada orang dewasa muda dan jarang pada wanita hamil.

Gejala-gejala dapat bervariasi, tergantung dari lamanya penyakit bersifat aktif dan luasnya ileum yang terkena proses : diantaranya nyeri perut, diare, demam ringan, terabanya tumor di perut, perdarahan, dan perforasi usus. Anamnesis yang teliti dan pemeriksaan ronentgen dapat menyokong diagnosis. Diagnosis hanya dapat di buat setelah perut di buka.

Pengaruh kehamilan pada ileitis regionalis tidak pasti dan sangat bervariasi : ada yang menjadi lebih baik dalam kehamilan, ada yang sama, ada pula yang menjadi lebih buruk. Apabila penderita menunjukkan gejala-gejala yang berat dan reaksi negatif terhadap kehamilannya, maka dapat dipertimbangkan melalui abortus buatan atas kerjasama dengan psikiater.

A.5 USUS BESAR

1.   Appendisitis

Appendisitis akuta dapat terjadi setiap saat dalam kehamilan dan nifas. Diagnosis diferensial haruys dibuat dengan peristiwa mendadak lain-lain, seperti kehamilan diluar kandungan, putaran tangkai pada tumor ovarium atau mioma subserosum, ureteritis, batu ureter, pielonefritis dan obstruksi usus halus. Dalam persalinan harus dibedakan dari solusio plasentae dan kelainan-kelainan tersebut diatas.

Walaupun frekuensi appendisitis dalam kehamilan tidak lebih tinggi daripada diluar kehamilan, namun perforasi lebih sering terjadi dalam kehamilan, kira-kira 1,5-3,5 kali lebih sering. Dalam persalinan abses dapat pecah karena berkontraksinya uterus dan menyebabkan peritonitis difusa. Bahaya ini lebih besar lagi dalam partus kala 3 dan hari-hari pertama nifas waktu korpus uteri banyak bergerak-gerak dalam proses involusi. Diagnosis dipersulit karena rasa nyeri tidak selalu pada titik Mcburney. Dalam kehamilan memang terjadi perpindahan tempat usus buntu akibat membesarnya uterus : makin tua umur kehamilan, makin tinggi lokalisasi apendiks. Serangan nyeri perut yang didahului oleh rasa mual dan muntah, pada appendisitis akuta baru pertama kali itu di rasakan, tidak pernah sebelumnya dan sifat nyerinya lain daripada rasa nyeri yang biasa di derita oleh wanita hamil umumnya. Wanita hamil dengan appendisitis akuta harus segera di operasi dan di lakukan appendektomia tanpa menghiraukan nasib janin. Seksiosesarea tidak di anjurkan pada waktu dilakukan appendektomia karena uterus mudah terserang infeksi. Biasanya kehamilan berlangsung terus sampai tiba saat persalinan. Dalam kala dua partus di akhiri dengan ekstraktor vakum/ cunam. Manipulasi intra uterin sedapatnya di hindari. Apabila diagnosis appendiksitis akuta dibuat menjelang atau dalam persalinan, maka dilakukan juga appendektomia, dan diharapkan partus pervagina atau dapat dipertimbangkan appendektomia dan seksio-histerektomia.

 
Leave a comment

Posted by on June 12, 2011 in OBSTETRI

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: